RSS

Pak D Dalam Perjalanan Panjang

03 Nov

dr.  Soes

“Sekolahnya apa dik?” itulah salah satu pertanyaan yang dilontarkan dr. Soesbandoro saat pak D muda datang kerumah dinas beliau di jalan Swara Mahardika dekat gedung Dinas Kesehatan Provinsi NTB. Pak Soes adalah orang pertama yang pak D datangi di NTB tahun 1980, setelah beberapa jam yang lalu pak D sampai di bumi seribu masjid ini.

Surat  dari ayah pak Soes yang dari tadi pak D pegang   diserahkan, kemudian dibuka dan dibaca dengan cepat. Dalam hati pak D berdoa mudah-mudahan surat ini adalah surat sakti untuk melancarkan pencarian kerja sebagai pegawai negeri di NTB. Nggak susah sih…. soalnya pak D muda sudah bawa SK dari Departemen Kesehatan sebagai lulusan Akademi Penilik Kesehatan Teknologi Sanitasi di Surabaya. Pasti mendapat pekerjaan, hanya alternatifnya banyak, bisa di Kabupaten ujung Timur di Bima sana tapi bisa juga di kota Mataram ini.

Tergantung lobynya kata pegawai di Departemen Kesehatan waktu itu. Wah…loby? apa itu!

Dari jaman dulu, mulai orde lama, orde baru sampai orde reformsi ini kata loby itu dikenal sebagai instrumen ampuh untuk menyelesaikan persoalan. Kalau kemampuan lobynya bagus, maka seseorang akan bisa mudah untuk mencapai suatu tujuan. Pak D percaya itu!

Pak D muda ngeri mendengar tempat yang namanya Bima atau Dompu. Panasnya yang luar biasa, tanahnya ditutup lahan kering, bahasanya sulit, sering terjadi perkelahian antar kampung dsb, itu yang pak D dengar waktu itu. Pak D muda ingin kerja di pulau Lombok sajalah.

“Kalau sekolahnya dulu belajar juga tentang laboratorium, kan bisa juga ikut kerja saya di Rumah Sakit” suara pak Soes mengagetkan pak D dari lamunan di ruang tamu itu. Buru-buru pak D mengoreksi bahwa sekolahnya kemarin lebih cocok untuk bekerja di lapangan, dan lebih nyata mengabdi kepada masyarakat. Bahasa pak D masih terpengaruh dengan jawaban yang  dipersiapkan untuk menghadap sekretaris Kantor Wilayah besuk atau lusa,  lupa kalau kunjungannya ke pak Soes hanya sekedar silaturahmi sebagai orang baru yang diberi surat rekomendasi untuk bertemu orang yang seterkenal beliau.

Pertemuanpun berakhir dengan ungkapan yang pak D muda sampaikan untuk meminta bantuan agar dapat bekerja di pulau Lombok lewat pak Soes.

Alhamdulillah akhirnya benar pak D muda harus berangkat ke Kabupaten Lombok Timur jadinya, meskipun pada hari pertama sampai ketiga  orientasi tugas di Dinas Kesehatan Provinsi, mendengar sendiri kabar bahwa dia harus bertugas di Kabupaten Dompu.

Surat sakti itu pasti sudah ditindak lanjuti dengan telepon pak Soes ke Sekretaris Kanwil untuk membantu pak D. Terimakasih pak, semoga Allah mencatat sebagai amal kebajikan. Amin.

Tak pernah jadi staf

Menunggu seharian di Dinas Kesehatan Lombok Timur belum juga bertemu, karena beliau sedang keluar daerah. Hari Senin berikutnya pak D menghadap Kepala Dinas bersama Kasubbag Kepegawaian, waduh… harus sedikit pusing lagi. Arahan yang pak D dengar dari pak dokter Kepala Dinas, tempat job yang ada sudah penuh, ”coba ditempatkan saja di Rumah Sakit sebagai pemegang Medical Record.”

Pak D punya pikiran akan kembali ke Departemen Kesehatan di Jakarta, kalau harus bekerja di rumah sakit, pak D merasa harus bekerja sesuai dengan latar belakang pendidikan yang dia miliki. Kasubbag Kepegawaian yang kemudian pak D ketahui juga sebagai pendatang dari Cirebon, mencoba menenangkan agar menunggu momen yang tepat untuk menghadap kembali membicarakan soal penempatan tugas ini.

Okelah kalau begitu, jawab pak D dalam hati.

Dua minggu pak D masuk kantor sebagai Calon PNS, kabar gembira datang seiring dengan mundurnya seorang karyawan dari Kepala Seksi Penyuluhan Kesehatan Masyarakat, Alhamdulillah karena pak D  yang direncanakan langsung mendapat promosi. Baik hati bener bapak ini pikir pak D, tahu ada orang sedang galau, e..e…e… dia memilih menekuni pekerjaan lamanya sebagai Bendaharawan Proyek, dan seakan menyerahkan jabatannya untuk pak D.

Campur tangan Tuhan telah datang untuk pak D, “ya Allah saya bersyukur, rahmatMu telah tercurah untuk hambaMu di perantauan ini”. Mengabdi kepada masyarakat adalah janji pak D, “karyaku adalah bagian dari ibadahku”.

Pak D kini telah memulai sesuatu yang baik, dengan menduduki jabatan tanpa bermula dari kedudukan sebagai staf.

Tidur di atas duri

Di tengah kesibukan penyesuaian diri dalam bergaul sebagai orang baru di sebuah kabupaten di luar Jawa, sekali waktu terpikir ingin pulang berkumpul bersama keluarga Bapak dan Ibu sambil cerita hebohnya urusan kepegawaianku yang kini telah kelar.

Menempati sebuah unit baru yang dulu tergabung dengan unit lain, Penyuluhan Kesehatan merupakan sebuah seksi yang belum mapan dengan pekerjaan yang belum terdanai secara optimal. Gak aneh kalau kemudian pak D sering melamun dan kesepian.

Keadaan ini ternyata tak berjalan lama, pak D dan teman-teman didatangi kesibukan yang luar biasa, siang dan malam harus ke lapangan. Kini tak lagi bisa santai ngobrol. Kabupaten Lombok Timur terlanda wabah penyakit diare.

Meluasnya penyakit ini membahayakan karena penularan melalui air minum atau makanan yang terkontaminasi kuman berjalan sangat cepat dengan serangan yang mematikan terutama untuk bayi dan balita yang memiliki kerentanan tubuh yang tinggi.

Tim dari Pemerintah Provinsi datang memberikan arahan termasuk memperbantukan personil yang tergabung dalam empat Tim Gerak Cepat penanggulangan diare. Pak D dipercaya sebagai Ketua Tim II yang bertanggung jawab di wilayah Lombok Timur bagian barat meliputi beberapa kecamatan.

Pak D tak lagi ingat kampung halaman yang beberapa waktu lalu mengganggu pikiran, karena harus bangun pagi dan segera ke kantor, membuat laporan harian Tim, menyiapkan logistik untuk penanggulangan diare di Puskesmas, mengecek kendaraan dan kesiapan staf kemudian ke lapangan sampai sore. Ini berjalan sudah hampir sebulan lamanya.

“Gara gara orang seperti saudaralah maka wabah ini tidak bisa cepat berhenti. Saudara tidak tahu kalau Kepala Dinas saudara menghadap saya dengan menangis mengatakan bahwa stafnya tidak mampu dalam penanggulangan penyakit diare ini” suara itu begitu keras menggema di ruang pertemuan Dinas Kesehatan Lombok Timur di depan sekitar 100 peserta rapat jajaran kesehatan. Kepala Kantor Wilayah Departemen Kesehatan Provinsi NTB marah besar kepada pak D. Dengan mencoba menenangkan diri, mengumpulkan energy untuk membela diri, sementara  menangkap sinyal dari Pimpinan rapat agar pak D diam saja.

Pak Dpun diam, tapi tak ingin meralat kejujuran sebagai Ketua Tim II yang baru saja mengucapkan bahwa selama ini tidak pernah melihat ada lisol sebagai bahan sterilisasi lantai rumah penderita diare yang seharusnya dibawa Tim dan digunakan di rumah penderita.

Adalah dr. Bawadiman seorang anggota DPR Pusat yang waktu itu ikut hadir dalam rapat evaluasi penanggulangan diare, memeluk pundak pak D sambil mengatakan “sabar dik, sekali sekali kita harus tidur di atas duri” saat berjalan meninggalkan ruang pertemuan usai rapat evaluasi.

Peristiwa itu, yang menurut bisik-bisik karyawan lain bisa berakibat adanya hukuman untuk pak D, ternyata membawa hikmah dengan melimpahnya logistik bantuan Pemerintah Pusat termasuk berpuluh-puluh drum lisol bahan sterilisasi.

Syukur Alhamdulillah, wabahpun reda, dan pak D menjadi lebih dikenal pasca kemarahan Kakanwil.

Single Fighter

Hari hari bekerja sebagai pelaksana harian Kepala Seksi Penyuluhan, berjalan dengan kekuatan kreatifitas sendiri sementara menunggu adanya anggaran tetap untuk seksi yang baru saja terbentuk awal tahun 1980 ini. Stafpun belum mapan, dua orang dengan usia diatas 45 tahun yang belakangan bertambah dengan seorang perawat yang juga menempati ruangan kerja berukuran sekitar 5 kali 8 meter ditambah satu mesin ketik tua sebagai fasilitas andalan. Ada satu sepeda motor butut , yang biasa membawa pak D pada pertemuan- pertemuan UKS dan siaran radio di RKPD.

Pak D bersyukur punya ketrampilan mengetik, mengendarai motor, berbicara di depan orang banyak sebagai buah dari pengalaman menjadi Sekretaris dan ketua Senat Mahasiswa sekitar dua, tiga tahun lalu. Tantangan ini mengasyikkan, meskipun relatif sebagai karyawan “single fighter”.  

Pekerjaan berjalan mengalir tanpa hambatan berarti, sedikit kebanggaan waktu itu pak D telah berperan menjadi pembimbing staf dalam banyak hal misalnya mengetik laporan, menggunakan alat baru seperti mesin stensil dan OHP serta membuka hubungan kerja dengan personil Pemda, Kodim, Polres, Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama, Organisasi Wanita dan Sekolah.

Keterlibatan pak D dalam beberapa organisasi di kabupaten misalya KNPI, FKPPI, PKK, PMI, Tim Penceramah Ramadhan, Guru SMA dan STM Swasta ikut mendukung kelancaran pekerjaan sehari-hari.

Ada memang satu kejadian yang tidak bisa dilupakan, terkait dengan laporan hasil pemeriksaan Irjen Depatertemen Kesehatan, yang salah satu temuannya adalah nama pak D terlalu mendominasi surat pertanggung jawaban berbagai kegiatan penyuluhan kesehatan masyarakat. Semua kegiatan, pak D sendirilah pelakunya, sehingga konsekwensinya pak D pulalah yang banyak menerima honor dalam berbagai kegiatan.

Setelah panjang lebar dijelaskan bahwa memang faktanya tidak ada staf yang mampu mengerjakan siaran radio, ceramah, memimpin diskusi pembinaan di desa, maka hal tersebut bisa diterima, meskipun kemudian penyuluhan kesehatan masyarakat banyak melibatkan personil unit lain menghindari kesan dominasi. Ya gimana lagi terlanjur…. Ketidak tahuan itu telah banyak memberi keuntungan bagi pak D.

Benci Toilet

Keseharian pada saat bekerja, selain diwarnai dengan canda tawa dengan sesama karyawan, pak D sesekali waktu memanfaatkannya untuk berdiskusi sedikit serius dengan patner kerja di bagian lain. Diskusi seperti ini sering dirasakan manfaatnya bila kemudian dapat digunakan untuk perbaikan suasana kerja pada waktu berikutnya. Banyaknya profesi di jajaran kesehatan seperti dokter, dokter gigi, kesehatan masyarakat, apoteker, perawat, ahli gizi, sering memerlukan pola tersendiri untuk saling mendukung sinergitas kerja.

Salah satu topik yang menarik yang pak D ingat misalnya soal toilet. Fasilitas WC yang ada pada tahun 80an di Dinas Kesehatan Lombok Timur, hanya ada dua, di samping ruang pertemuan berjarak sekitar 50 meter dari ruang kerja pak D. Minimnya fasilitas dengan pengguna yang lebih 50 orang itu, membikin kondisi yang tidak nyaman, sehingga pak D sering pulang sebentar sekitar jam 9 pagi hanya untuk keperluan buang air kecil.  Mungkin juga banyak orang lain berperilaku sama dengan pak D.

Ada hal menarik di dua ruang toilet yang ada, yang satu selalu terbuka dengan bau yang khas menyebar di sekitarnya, yang lain selalu tertutup karena diperlakuan yang khusus.

“Pak D tidak setuju dengan tulisan diatas pintu toilet itu” demikian kalimat yang pak D lontarkan pada beberapa kali berkumpul bersama teman waktu diskusi. Tapi bagaimana, selama itu tidak mengganggu ya….. biarkan sajalah, itu jawaban senior-senior pak D.

Pembaca pasti igin tahu tulisan apa itu, tulisan yang menunjukkan adanya diskriminasi di kalangan jajaran kesehatan, bahkan mungkin sampai dengan hari ini. Tak pernah ada yang berkeinginan mencopot tulisan itu, seakan tulisan itu begitu sakral dan akan menyinggung profesi mapan yang sempurna di negeri ini. Tapi tulisan itu mengganggu pikiran pak D setiap kali ingat, dan seharusnya tidak demikian.

Masih pengin tahu ? Kasih tahu nggak ya…

Dua toilet itu yang satu tanpa tulisan dan selalu terbuka, dan yang satu bertuliskan permanen “WC Dokter”.

Tentu saja tulisan itu tidak lagi ada sekarang!

Mengajar sejak awal

Berlatar belakang sering merasa sepi lepas jam kantor, atas ide sendiri melamar kerja sampingan sebagai guru. Profesi ini penuh tantangan, tapi juga mengasyikkan.

Tantangan pertama adalah masalah metodologi mengajar yang tidak secara khusus pak D pelajari, demikian juga bidang studi yang tersedia tidak selalu cocok dengan mata kuliah yang dulu ada di akademi. Sisi menyenangkannya adalah berhadapan dengan anak-anak muda yang selalu berganti setiap tahun, ada yang malu-malu, ada yang cuek, ada yang takut-takut, tapi ada juga yang nakal dan usil.

Seperti juga pendapat teman guru yang lain, guru hanya menang semalam dibanding muridnya, pak Dpun berniat mencari pengalaman dengan menerima mata pelajaran yang kebetulan tidak tersedia gurunya di sekolah tersebut. Secara umum yang banyak kekurangan di daerah adalah guru bahasa Inggris dan Kimia waktu itu.

Pelajaran bahasa Inggris yang lebih pak D pilih dibandingkan Kimia, hitung-hitung sambil belajar juga, pak D berfikir suatu saat nanti akan tugas belajar ke luar negeri, yang ternyata cita-cita itu kesampaian setelah pengalaman mengajar sepuluh tahun lebih.

Kebiasaan mengajar yang pak D geluti tidak terhenti sampai tahun 90an menjelang pak D mendapat tugas belajar ke luar negeri, tetap berkembang sampai dengan saat ini dengan status pangkat akademik lector pada Perguruan Tinggi Swasta di Mataram.

Sutradara panggung

Pada masa orde baru dulu, selain kita begitu hati-hati bertindak dan berbicara, tetapi di lain pihak banyak acara-acara kreatif yang menunjukkan keakraban korps di sebuah dinas atau institusi lain dan bahkan masyarakat.

Tidak ketinggalan di tempat pak D bekerja ini, bahkan menjadi lebih menggila setelah pak D dan beberapa teman mau berdiri di depan memotori kegiatan panggung.

Acara-acara tujuh belasan, pameran pembangunan, hari kesehatan nasional dan perpisahan pejabat selalu dirayakan bersama yang dihadiri semua staf dan pejabat lingkup kesehatan di Lombok Timur.

Pak D terharu dengan penerimaan teman-teman karyawan terhadap kehadirannya untuk mengatur para senior mengikuti aksi panggung. Ada yang kita ajak banyolan “fasion show”, ada yang terlibat dalam lomba kecerdasan di atas panggung, “mistery guest”, pemilihan karyawan dalam berbagai kriteria, sulap dan lain-lain.

Dalam salah satu kesempatan pernah pak D mengadakan kolaborasi antara penyuluh kesehatan dan organisasi FKPPI menyelenggarakan lomba seni tradisional Sasak yang diikuti seluruh kecamatan. Hasilnya menakjubkan karena kreasi ini adalah baru, semua camat patuh mengirim rombongan seni tradisional atas biaya sendiri. Peran Danramil mempunyai andil yang besar, karena surat perintahnya berasal dari Dandim selaku Pembina FKPPI.

Pejabat dikbud berkomentar bahwa baru kali ini lomba seni budaya dapat meriah diikuti semua kecamatan. Ck…ck…

Sarjana dan Pasca

Tidak mungkinlah orang seperti pak D akan menduduki puncak pimpinan sebuah instansi pemerintah kalau hanya berbekal sarjana muda bidang teknologi sanitasi. Itulah latar belakang pak D ingin melanjutkan kuliah dengan mencari fasilitas tugas belajar dari pemerintah.

Keasyikan bekerja sebagai penyuluh kesehatan dengan kegiatan rutin membina masyarakat desa dan penyuluhan melalui berbagai media, sampai sampai sedikit lupa akan keinginan melanjutkan kuliah. Dari tahun 1980 sampai 1986 terus bekerja dengan status sarjana muda, kemudian baru dapat meneruskan S1 di Surabaya sampai dengan tahun 1988. Sepulang dari belajar di Surabaya, pekerjaan masih mirip dengan pekerjaan lama yaitu sebagai penyuluh. Persiapanpun pak D mulai untuk mendapatkan tugas belajar jenjang strata dua. Surat dukungan dari Pemerintah Kabupaten mulai pak D urus dan dikomunikasikan ke Dinas Provinsi serta Kanwil Depkes di NTB. Campur tangan Tuhan kembali berpihak, pak D tercatat sebagai salah satu calon peserta yang akan mendapat dukungan dana dari Bank Dunia untuk menempuh S2 di luar negeri.

Di tahun 1990 dengan 12 orang teman dari NTB pun berangkat untuk persiapan bahasa Inggris di Jakarta selama tiga bulan. Di sana bertemu dengan rombongan dari Kalimantan Timur dengan jumlah yang sebanding. Dari hari ke hari belajar mencari trik mendapat nilai TOEFL yang memadai, paling tidak mencapai nilai 500.

Singkat cerita kami menyelesaikan kursus tiga bulan di Jakarta, tetapi kemampuan kami belum menunjukan peningkatan signifikan. Bahkan seorang teman mengatakan bahwa setelah kursus tiga bulan di Jakarta selesai, kemampuan yang meningkat signifikan adalah menghafal rute bus kota dan mengejar bus saat harus tergesa berangkat ke tempat kursus.

Latihan secara mandiri dan bergabung dengan kelompok mendalami TOEFL pak D lakukan karena sudah kadung basah, harus berangkat ke luar negeri tekadnya. Sampai pada musim tahun ajaran baru di Inggris tahun 1991, akhirnya pak D bisa berangkat dan hanya 2 orang saja dari NTB.

Ada dua cerita unik yang pak D ingat selama tugas belajar S2 di luar negeri, yang pertama pak D dikenal sebagai master chef dan yang ke dua banyak teman mahasiswa menanyakan jabatan pak D di pemerintahan.

Cerita pertama terjadi saat pak D termenung terheran-heran memperhatikan fasilitas dapur di flat mahasiswa tempat tinggal, yang sederhana tapi lengkap, mulai alat memasak, kulkas, kompor gas, oven, microwafe dan grill (alat untuk memanggang bahan makanan). Suatu saat diakhir minggu, pak D penasaran ingin menggunakan alat-alat memasak yang menurutnya aneh itu.

Segeralah Pak D berbelanja membeli daging domba, santan, bumbu-bumbu, dan minyak goreng serta broken rice  atau beras patah-patah yang murah harganya.

Praktek memasakpun dimulai, setelah selama dua jam memasak, tersajilah dengan meyakinkan nasi putih, sayur santan pedas daging domba bakar dan daging domba goreng. Dengan segera pak D menelephon teman-temannya yang dikenal suka makan-makan, antara lain Ricky dari Toronto, Juna dari India dan Joan dari Barcelona. Acara santap siangpun dimulai.

“great pak D, you are master-chef Indonesia”, mereka memuji hasil masakanku, meskipun pak D pun tidak tahu apa nama masakan ini.

Cerita kedua pak D membuat teman mahasiswa dari Indonesia heran saat suatu sore pak D membaca surat lima lembar tulisan tangan di meja belajar. Dua orang teman yang datang ke kamar pak D untuk belajar bersama, menunggu segera berdiskusi soal materi kuliah pagi tadi. Lama ditunggu karena pak D terlihat termenung setelah membaca surat, salah satu menegur “ayolah cepatan mulai diskusi, kok kelihatan asyik banget se.. baca suratnya. Emang kamu dapat surat darimana ?” Mereka jadi ikut melihat-lihat surat tersebut setelah pak D jelaskan bahwa baru saja terima surat balasan dari Bupati Lombok Timur Brigjen Purnawirawan H. Abdul Kadir.

“Seorang bupati berkirim surat dengan tulisan tangan sebanyak lima lembar?”emangnya apa jabatanmu di sana?

Nilai jeblok di Inggris

“Pulang sajalah , kalau kamu sudah dapat kiriman Bank Dunia sebesar itu, kamu akan hidup kaya dan tidak ada yang menuntut kok” demikian guyonan pak Letkol Amin dari Angkatan Udara bermarkas di Madiun di suatu sore, dikamar flat mahasiswa Montique Borton di kota Leeds Inggris.

Ide gila itu kadang kadang mengganggu juga pikiran pak D, kebetulan berbeda dengan Mahasiswa yang lain dengan mendapat transfer biaya secara keseluruhan dari Bank Dunia untuk biaya kuliah satu tahun, sementara teman yang lain yang mendapat sponsor dari berbagai lembaga internasional, biaya kuliah diterima tiga bulanan. Keinginan cepat pulang itu sedikit melonjak saat pusing memikirkan sulitnya mencari nilai di negeri Ratu Elisabeth itu.

Tiga bulan pertama kuliah di Nuffield Institute sekolah internasional yang pak D ikuti, membawa cerita unik yang intinya kita dari Indonesia kurang siap dari segi penguasaan bahasa.

Berbagai strategi kita terapkan agar kita nggak tertinggal mengikuti mata kuliah, ada yang membawa tape recorder setiap hari termasuk pak D, ada yang getol konsultasi dengan professor di luar kelas, ada yang ingin perhatian dengan mati-matian ikut aktif berbicara dalam diskusi kelompok dan lain-lain.

Dari empat orang yang bersamaan dalam kelas dari Indonesia, pak D memilih strategi yang paling sederhana, hanya mengandalkan rekaman tape recorder saat dosen mengajar dan menjadi pendengar yang baik di dalam kelas. Ketiga teman pak D semuanya berprofesi dokter, dua dari Kalimantan Timur satu dari Surabaya, mereka menempuh strategi yang komplek dengan memadukan aktif berbicara dan sering konsultasi.

Akhir tiga bulan berjalan, diumumkanlah hasil ujian mid semester. Pak D sih yakin strategi yang diterapkannya akan mendapatkan hasil lebih baik ketimbang strategi teman-teman lain dari Indonesia.

Hasil mid semester sangat mengejutkan, nilai pak D jeblok karena semua mata kuliah bernilai C, padahal kebiasaan di tanah air sering lulus terbaik, lebih mengejutkan lagi ketiga temannya semua tidak lulus.

Gendut

Dia kini sudah bergelar doctor dari ITB. Teman satu ini mengaku bahwa mendapat inspirasi melanjutkan studinya, salah satunya adalah dari studi pak D S2 di luar negeri.

Teman lama ini sangat istimewa sejak pak D kenal dari SMP di kota kecil di bagian Barat Jawa Timur.

Trenggalek nama kota yang membesarkan pak D sejak lahir sampai lulus SMA. Kota ini pernah terkenal di era 70an karena dipimpin oleh seorang bupati yang telah menemukan peningkatan hasil lahan cengkeh yang waktu itu lebih cocok disebut dengan tambang emas hitam.

Salah satu putra bupati “Soetran” yang terkenal itu adalah teman sekelasku, bersama Gendut putra seorang pengusaha toko emas yang terkenal dipojok pasar Pon di kota kecil tempat tinggal pak De waktu itu.

Dengan semangat rajin pangkal pandai hemat pangkal bertahan hidup, waktu kursus bahasa Inggris di Jakarta, pak D mencari teman lama dengan harapan dapat numpang kos gratis selama tiga bulan.

Lagi lagi keberuntunganku datang, pak D bertemu dengan mas Gendut yang waktu itu bekerja sebagai salah satu manajer di Bank Suma. Kesempatan terbuka itupun segera pak D manfaatkan karena istrinya yang sebagai dosen IPB sedang kuliah S2 di Jepang dalam waktu lima tahun, dia hanya bersama dengan seorang putranya “Kiki” .

Kehidupan di jakartapun berjalan mengalir tanpa beban, semuanya serba enak rasanya. Mas Gendut telah berkontribusi dalam persiapan studi S2 pak D, dan telah berkontribusi juga dalam keseluruhan perjalanan hidup pak D. Terimakasih tentu saja sering terucap, demikian juga sebaliknya dia sering mengucapkan kata terimakasih itu, terutama saat istri pak D membawakan madu Sumbawa pada waktu beliau pulang dari Mataram ke Jakarta sekitar dua kali dalam setahun.

Gedung PMI

Gedung megah di samping Rumah Sakit Umum Selong itu sampai kini masih berfungsi sebagai markas relawan dan unit transfusi darah. Inilah salah satu kenangan monumental yang tak terlupakan.

Terhitung sejak tahun 1984, pak D menjadi aktifis di PMI Kabupaten, bersama almarhum dr. Maryanto dan almarhum Bapak Lalu Jafar Suryadi yang merintis berbagai kegiatan kepalang merahan, dengan kegiatan pertama membina generasi muda aktif dalam Palang Merah Remaja dan kegiatan Bulan Dana setiap tahun.

Sebelum membangun gedung sebagai markas PMI dan merekrut staf dan Pembina PMR, markas PMI dan staf berada di ruang dinas keseharian pak D bekerja, dengan memaksimalkan kerja staf dinas sekaligus untuk kegiatan PMI.

Di tahun 1990 dalam suatu kesempatan rapat Bulan Dana PMI, kami menerima protes keras dari beberapa orang yang merasa tidak pernah dilibatkan dalam pengelolaan hasil bulan dana, sementara pekerjaan mencari dana tahunan selalu melibatkan orang banyak untuk memperoleh dana sebanyak-banyaknya.

Pertanyaanpun terjawab setelah di tahun itu kami membeli tanah ukuran sekitar 25 are yang kemudian diteruskan dengan pembangunan gedung, sehingga 100 persen gedung PMI berdiri secara swadaya menggunakan biaya hasil bulan dana selama lima tahun, tanpa bantuan pemerintah.

Gedung itu berdiri dengan megahnya sampai sekarang, merupakann gedung pertama PMI tingkat kabupaten dengan bangunan dan lahan terluas di NTB.

Gerbang Masa Depan

Gerakan Pembangunan Masyarakat Desa Pantai disingkat Gerbang Masa Depan, tidak lagi terdengar gaungnya di Lombok Timur maupun NTB. Waktu menulis konsep ini pak D bekerja sebagai Kepala Bidang Sosial Budaya di Bappeda.

Ketertarikan pada masalah pemberdayaan masyarakat dengan tujuan pengentasan kemiskinan, memang sudah ada sejak lama dan tertuanglah dalam sebuah konsep Gerbang Masa Depan. Dengan asumsi bahwa angka kemiskinan tertinggi berada pada masyarakat nelayan, maka sangat rasional apabila perhatian pemerintah terfokus pada pemberdayaan desa pantai.

Setelah beberapa kali presentasi dan diskusi pembahasan konsep, bupati menyatakan bahwa Gerbang Masa Depan segera dapat diimplementasikan dengan menggunakan dana APBD Kabupaten.

Bantuan kepada beberapa desa pantai direalisasikan antara lain berupa bantuan rehabilitasi rumah, sanitasi lingkungan dan bantuan penguatan ekonomi kelompok masyarakat.

Namun sayang, Gerbang Masa Depan tidak lagi dianggarkan pada tahun tahun berikutnya seiring dengan pergantian pimpinan daerah dan juga kepindahan pak D ke Provinsi, atau mungkin aplikasi program yang tidak berdampak signifikan sesuai dengan rencana.

Presentan favorit

Pernah pak D mengikuti pelatihan Metodologi Pelatihan Pembangunan Desa Terpadu di Bandung, ditambah dengan akses computer 24 jam di Leeds University yang selalu dimanfaatkan, maka pak D menjadi aplikator pertama program Power Point di kabupaten.

Berbagai presentasi menjadi menarik perhatian dengan menggunakan power point yang waktu itu masih  terbilang langka, pak D menjadi lega karena ternyata apa yang sering pak D otak atik secara otodidak di Leeds University tepatnya di laboratorium computer menjadi berguna saat itu. Ingat-ingat pengalaman itu memang seru juga, hampir setiap akhir minggu setiap sore sampai pagi pak D menghabiskan waktu di laboratorium computer, yang  lebih disebabkan karena sulit membuat acara yang menyenangkan. Mau ke apartemen teman Indonesia lain, sering  diajak ke lapangan olah raga atau jalan jalan belanja ke mall, dua duanya kurang pak D sukai, jadilah pelanggan lab computer meskipun ke dua mata kemudian harus pakai kacamata minus dua. Lagian di lab computer kan serba gratis dan terbuka selama 24 jam setiap hari.

Pak D akan menjadi terkenal dengan modal power point ini pikirnya, lebih-lebih orang yang mempunyai latar belakang pendidikan kesehatan masyarakat seperti pak D dipahami banyak orang hanya cocok bekerja di lingkup kesehatan. Wah… pak D harus fight untuk masalah yang satu ini. Mumpung sudah berhasil pindah di Bappeda sebagai seorang Kepala Bidang, pasca tugas belajar di luar negeri, harus menghilangkan imej bahwa pak D hanya fasih berbicara soal kesehatan masyarakat. Pak D kemudian berusaha menjadi presentan yang baik, sebagai seorang kepala bidang sosial budaya.

Kiat ini rupanya berhasil, pak D banyak dikenal di berbagai kalangan antara lain dalam program kerjasama Unicef, perencanaan pembangunan bidang pendidikan, pendampingan Latsitarda serta berbagai program unggulan kabupaten.

Upaya merubah imej menjadi professional yang lebih general dari bidang kesehatan, pak D lakukan juga dalam waktu bersamaan dengan menempuh kuliah kembali S1 di Fakultas Ekonomi Unram program ekstensi yang pak D tempuh sejak tahun 1997 diakhir tugas di Bappeda sampai dengan tahun 1999 saat bertugas sebagai Kabag Pembangunan.

Spama paksa

“Kamu gak boleh berangkat Spama, karena cara yang kamu gunakan tidak benar, Pemda tidak pernah merencanakan kamu ikut Spama, kok tahu-tahu ada panggilan Spama seperti ini” gertak Bupati Sadir sepulang dari tugas luar daerahnya.

Diam adalah emas, saat seperti ini memang cocok untuk diterapkan, kalau nggak diam bisa-bisa digampar kali?

Keinginan mengikuti spama sangat besar, lebih-lebih pak D dengar antrean yang panjang, prosedur yang sulit dsb. Padahal untuk bisa menjadi abdi negara dan abdi masyarakat dengan skop pekerjaan yang lebih luas, tahapan ini harus dilalui.

Dari hasil renungan beberapa hari, pak D menyimpulkan sendiri bahwa pak Bupati pasti dapat masukan yang tidak adil dan seimbang tentang prestasi dan kekurangan pak D dalam mengabdi kepada masyarakat melalui beberapa jabatan selama ini. Pak D harus membuat surat agak panjang kepada pak Bupati.

Semalaman hampir tidak dapat tidur untuk membuat dan memikirkan surat yang akan di kirim besuk. Sebaiknya pak D antar sendiri ke Pendopo, agar dapat diyakini surat akan terbaca dan tidak terbuang ke tempat sampah sebelum difahami maksudnya.

Surat yang berisi pengajuan kembali ijin berangkat Spama itu akhirnya sudah dapat pak D antar, isi pokoknya adalah sudah dua kali pak D menerima perlakuan tidak adil soal kepegawaian yaitu dua kali pernah diajukan untuk kenaikan pangkat pilihan, tetapi dengan berbagai alasan pengajuan kenaikan pangkat  pilihan dari Kepala Dinas pak D tidak diproses. Sementara saat ini pak D sudah menerima panggilan dari Departemen Kesehatan untuk mengikuti Spama Swadana nyaris tidak dikabulkan. “Pak D mohon kebijakan bapak dalam hal ini” demikian tulisan dalam penutup surat dua lembar tersebut.

Tiga hari kemudian, sudah ada khabar bahwa pak D bisa diberangkatkan Spama ke Jakarta, bahkan mendapat biaya dari Pemda meskipun spama yang ini adalah swadana. Wooww….berteriak sambil koprol dalam hati.

 

Buletin

Keong Mas namanya. Buletin itu beredar di lingkungan peserta Spama Swadana tahun 1996 di Departemen Kesehatan.

Kepercayaan 60 orang teman-teman peserta Spama untuk menetapkan pak D sebagai ketua dewan redaksi buletin, pak D sambut dengan riang gembira karena media ini akan mengisi waktu luangku yang selama ini sulit mengelolanya, karena akhir minggu hampir semua peserta mudik meskipun mereka berasal dari Surabaya, Semarang, Jogyakarta, Denpasar, Banjarmasin dll. Pak D sering menghabiskan waktu di tempat tidur sendirian pada akhir minggu, karena jatah pulang dari dinas hanya dua kali selama tiga bulan , jatah secara pribadi nggak punya. Pernah sekali waktu ikut teman yang berumah di Jakarta, e…e… nggak nyaman juga, wong mereka pulang dengan niat kangen- kangenan sama keluarga kok pak D ikut, jatuhnya pak D tiduran juga jadinya.

Nah… sekarang lain ceritanya, Keong Mas yang terbit dua mingguan telah mengisi kehidupan pak D.

Laptop di depan pak D terlihat ceria juga saat  sekali-sekali pak D ajak senyum mengingat kejadian-kejadian lucu yang terjadi di kehidupan peserta spama yang harus pak D tuangkan dalam bentuk cerita, gambar maupun simulasi dialog. Pak D merasa sangat bebas dan lepas berekspresi, sementara dukungan dana produksi tersedia sangat cukup dari iuran peserta.

Bagaimana dana gak cukup? Peserta spama swadana sebagian besar adalah bos-bos Rumah Sakit di kota-kota di Indonesia, beberapa dari Jakarta, ada juga dari Medan serta kota kota lain. Mereka membayar iuran berlebih, masih ditambah lagi dana sponsor dari beberapa pabrik obat atas permintaan peserta yang sebagian berprofesi dokter spesialis. Bahkan percaya atau tidak, spama 1996 Departemen Kesehatan PKL di Batam dengan menggunakan pesawat yang rencana awal dari Pusdiklat PKL ke Jogya dengan menggunakan bus. Wah… banyak untungnya juga bergaul dengan orang-orang yang mudah mencari uang seperti ini.

Kembali ke… laptop ! Tulisan Keong Mas yang ternyata sebagian besar adalah kontribusi tulisan pak D sendiri, ternyata banyak juga peminatnya. Mereka mulai berbisik membicarakan sindiran yang termuat di bulletin, ada yang ingin mendiskusikan secara serius salah satu materi yang terkait dengan pembelajaran, bahkan ada yang protes keras karena merasa tersinggung.

Pernah gambar karikatur yang terpaksa pak D buat sendiri karena semua teman mengaku tidak bisa menggambar, menjadi pergunjingan luas karena menyangkut dua teman peserta yang terlibat “cinta lokasi”, padahal masing-masing sudah berkeluarga. Ada yang usul agar yang bersangkutan disidang secara resmi, ada yang ingin memanggil dan mengingatkan secara pribadi, tapi sebagian besar peserta lebih mengusulkan “biarkan saja, biar waktu yang menyelesaikan”.

Dinamika telah berproses mengiringi peran Keong Emas sebagai media komunikasi dan penyebar luasan informasi serta media hiburan, spamapun berakhir dengan predikat tiga besar untuk pak D, tapi semangat membuat bulletin akhirnya selalu terjadi dimana pak D bertugas, mulai di Bappeda Kabupaten, PMI, Dikes KSB dan BPMPD Provinsi. Asyiklah….

UNTB

Pak Bernadus Sore dan pak Nur Nasution serta pak Soerono adalah tokoh yang sering bersama-sama rapat malam hari di Pendopo Wakil Gubernur. Topiknya menarik, kita akan mendirikan Universitas.

Beberapa kegiatan persiapan dilakukan termasuk seminar dan kunjungan bersama ke Fakultas Kehutanan di Universitas Gajahmada di Jogyakarta, sampai pada rancangan pengelola dan pengajar.

Kali ini pak D mendapat tantangan. Biasanya hanya mengajar sekolah lanjutan, kayaknya harus berhijrah meningkatkan kualitas sebagai pengelola sekaligus pengajar di universitas. Siapa takut?

Bpk. H. Lalu Azhar selaku Wakil Gubernur memberikan rekomendasi kepindahan pak D dari Kabupaten Lombok Timur ke Pemerintah Provinsi untuk menjabat sebagai Kasubdin Bina Penyehatan Lingkungan. Perpindahan tersebut merupakan even “comeback” pak D ke jajaran kesehatan setelah hampir sepuluh tahun berkelana di luar jajaran kesehatan, meskipun sekitar dua tahun kemudian pak Dpun keluar lagi dari kesehatan, masuk kembali dan keluar lagi. Tapi yang lebih penting adalah hijrah pak D ke Mataram lebih dari itu, yaitu ikut bergabung dalam Tim Pendirian UNTB ( Universitas Nusa Tenggara Barat).

Sebagai ketua Yayasan Pendidikan, pak Lalu Azhar menyebutkan dalam beberapa pertemuan bahwa UNTB adalah sebuah universitas yang akan membuka program studi yang belum ada di Nusa Tenggara Barat antara lain Kesehatan Masyarakat, Perkebunan, Kedokteran Hewan, dan Sastra seni. Harapan ke depan Universitas ini akan menyiapkan alternatif program studi yang memberikan kontribusi pada penciptaan lapangan kerja professional di provinsi ini.

Rektor pertama adalah bapak H.Jalaluddin,SH ayah Tuan Guru Bajang, sementara pak D mendapat kepercayaan sebagai Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat pada tahun 2000.

Misi membuat sarjana kesehatan masyarakat yang banyak, memang melekat pada seorang ketua Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat atau IAKMI yang waktu itu pak D pegang, di lain pihak Kepala Kanwil Kesehatan Provinsi NTB tidak memberi restu pendirian FKM ( Fakultas Kesehatan Masyarakat ) dengan alasan hanya menambah jumlah pengangguran berstatus sarjana kesehatan. Apa urusannya? Uji nyalipun lewat, pak D memantapkan diri menerima tawaran sebagai Dekan FKM  dari Tim Pendiri selama lima tahun, yang kemudian menjabat rektor selama dua tahun sebelum kemudian pindah tugas di Kabupaten Sumbawa Barat pada pertengahan tahun 2006.

GEMA PRIMA

Pak D setuju bahwa persoalan bangsa ini adalah perilaku, meliputi perilaku sehat, cinta lingkungan, gemar membaca, jujur, disiplin, peduli dan sejenisnya. Kepala Bappeda Provinsi pada awal kepemimpin pak Harun Alrasyid sebagai Gubernur membentuk Tim Pembuat konsep Gerakan Mandiri Perubahan Perilaku Masyarakat dan Aparat disingkat Gema Prima. Tim terdiri dari tujuh orang yang berasal dari Akademisi dan unsur birokrat serta Widya Iswara. Pak D yang waktu itu bertugas di Bappeda Lombok Timur dipercaya menjadi salah satu anggota Tim, yang bekerja dengan jadwal fleksibel di Bappeda Provinsi.

Tim tujuh bekerja sampai konsep selesai, namun dari awal Gema Prima sudah menerima tantangan dari beberapa pihak di tingkat birokrasi maupaun tokoh masyarakat, dengan permasalahan kata perubahan perilaku dianggap memerangi perilaku yang selama ini hidup dalam masyarakat. Sementara diharapkan Pemerintah Provinsi hendaknya melindungi dan melestarikan berbagai perilaku masyarakat yang sebenarnya banyak yang mendukung gerak pembangunan.

Persepsi yang berbeda inilah kemudian melahirkan terjemahan dan tindakan yang berbeda pula dalam gerakan mendukung Gema Prima.

Gema Prima tetap menjadi jargon pembangunan waktu itu, yang kemudian dijalankan dengan pusat administrasi dan kegiatan di Unit Penasehat dan Staf Khusus Gubernur.

Gema Prima kemudian berganti Gerbang Emas sebagai sebuah motto pembangunan di NTB. Gerakan Pembangunan Ekonomi Masyarakat disingkat Gerbang Emas adalah jargon yang digunakan pada waktu pak H. Lalu Srinata sebagai Gubernur pasca pak Harun Alrasyid.

Bagi pak D, semua berjalan biasa saja, karena pada masa ke dua Gubernur tersebut, pak D aktif sebagai salah satu anggota Tim Pembuat LKPJ di Sekretariat Daerah.

Calon Sekda

Sontak berita pagi Lombok Post itu menjadi buah bibir yang membaca. Lupa hari dan tanggalnya pak D jadi salah tingkah karena termuat dalam harian berita pagi itu kalau nama pak D diucapkan oleh pak kiyai Zul sebagai salah satu kandidat calon Sekda KSB. Wartawan menyebut bahwa pak D melamar menggunakan dua bahasa yaitu  bahasa Inggis dan bahasa Arab.

Lebih banyak yang tersenyum sinis daripada yang rela mendukung berita itu. Banyak yang kaget termasuk pak D sendiri, karena meskipun banyak orang mengira bahwa memang benar pak D melamar sebagai sekda atas tawaran Pemerintah KSB melalui pemberitaan media, yang kenyataannya pak D tidak pernah menulis lamaran itu.

Lho! Terus siapa yang menulis? Sampai sekarangpun tidak secara pasti pak D mengetahui, perkiraan pak D yang disebut lamaran itu sebenarnya surat pribadi biasa yang ditujukan kepada kiyai Zul yang berasal dari seorang teman berlatar belakang pesantren yang biasa menggunakan bahasa Inggris dan bahasa Arab.

Beberapa hari sebelum pemuatan berita di Lombok Post itu, di Jakarta pak D memang pernah bertemu dengan seseorang, yaitu Kiyai Nur ketua Pondok Pesantren Al Gontori di kecamatan Aikmel Lombok Timur. Perbincangan cukup lama meskipun baru kenal. Ditengah pembicaraan bersama kyai Nur, beliau bertanya kurang lebih ”anda pengin menjadi apa setelah sekian lama sebagai PNS ini”. “Cari jabatan itu sulit pak Kyai, apalagi pendatang seperti pak D” begitu jawaban pak D waktu itu.

Kesimpulan sementara beliaulah yang berkirim surat kepada kiyai Zul Bupati KSB menawarkan pak D menjadi sekda. Sampai sekarangpun pak D tak pernah konfirmasi mengenai itu, apalagi belakangan diketahui bahwa pak D dan seorang kandidat lain DR.Rudianto dari Malang dinyatakan tidak memenuhi syarat.

Kadikes

Dari cerita gagalnya nyalon sebagai sekda, pada suatu acara yaitu pelantikan pengurus Komisi Penanggulangan Aids KSB, pak D memperkenalkan diri bahwa pak Dlah yang namanya tertera dalam suatu surat lamaran sekda kepada pak Bupati. Bupati KSB menjabat erat tangan pak D, yang tidak pernah kenal sebelumnya, lalu setengah berbisik berkata “ayolah bantu saya di sini sebagai Kepala Dinas Kesehatan”, kaget juga mendengar ucapan itu, pak D ternyata salah selama ini, yang terpengaruh dengan pandangan umum dan pemahaman sendiri bahwa mencari jabatan itu sulit.

Aku harus memberi contoh dan berbuat maksimal! Begitu besar harapan masyarakat terhadap kehadiran pak D di bumi Pariri Lema Bariri, telah menjadi tantangan pak D untuk mewujudkan berbagai impian sebagai orang yang dipercaya memimpin sektor kesehatan di tingkat kabupaten, demikian lamunan usai pelantikan pada pertengahan tahun 2006 itu.

Mulailah pemetaan kebutuhan masyarakat tentang pelayanan kesehatan, dengan menghadiri berbagai diskusi di kantor camat, kantor desa dan berbagai kesempatan lain. Hasil pemetaan mengindikasikan bahwa masyarakat banyak menginginkan perubahan penampilan Puskesmas, pelayanan kesehatan di wilayah terpencil, antisipasi penyakit Demam Berdarah dan penyakit akibat lingkungan lain, serta komunikasi dan penyebar luasan informasi.

Yang secara keras disuarakan tokoh masyarakat, yang mungkin sekaligus menguji Kepala Dinas Kesehatan yang baru adalah perubahan fasilitas kesehatan secara phisik yang memang sangat memprihatinkan. Campur tangan Tuhan kembali berpihak pada pak D dan kawan kawan, penampilan semua puskesmas tuntas dalam waktu dua tahun dengan biaya dari dana adhoc  DPR dan DAK. Pada tahun berikutnya, penampilan Puskesmas terus ditingkatkan dan saat ini Puskesmas Taliwang bahkan telah dimanfaatkan sebagi Rumah Sakit Umum KSB.

Pelayanan kesehatan daerah terpencil memberi dampak yang signifikan dengan kebijakan PTT Daerah dan Brigade Mobil Pelayanan Kesehatan. Sejumlah empat orang dokter direkrut dan dibiayai oleh Pemerintah Kabupaten, dua orang bertugas memberikan pelayanan kesehatan di wilayah terpencil secara berkala, dua orang dokter mengisi Puskesmas terpencil di Kacamatan Sekongkang wilayah bagian Selatan KSB yang pada masa lalu tidak disenangi oleh para dokter karena kurangnya fasilitas dan infrastruktur Puskesmas, jalan serta sumberdaya manusia yang dianggap kurang mendukung. Saat ini kecamatan Sekongkang menjadi tempat favorit bagi para dokter, karena kemudian kerjasama Pemerintah dalam kesehatan dengan pihak perusahaan PTNNT berkembang pesat.

Selain empat dokter yang sengaja didatangkan dari Universitas Pajajaran dan dokter pelamar dari Jawa Timur, sejumlah 20 Bidan direkrut dengan tawaran insentif sekitar 3,5 juta rupiah per bulan untuk daerah paling terpencil serta alat transportasi berupa satu sepeda motor. Pencanangan “zero maternal death” dengan dukungan penempatan Bidan Desa di seluruh desa, akhirnya mencapai hasil maksimal dengan kematian ibu melahirkan nol di KSB tahun 2007, dan diperolehnya penghargaan Departemen Kesehatan berupa dana sebesar 1M sebagai Kabupaten 100% Desa Siaga. Bupati KSB pun memperoleh anugrah Swasti Saba Padapa Arutala Dari Presiden Republik Indonesia. Sayang prestasi seperti ini tak lagi terdengar disana.

Selama menjadi Kepala Dinas Kesehatan, pak D pernah berurusan dengan penegak hukum, ini terjadi saat pak D menjadi saksi di persidangan perkara pengadaan mobil farmasi di Dinas Kesehatan Sumbawa Barat dengan terdakwa bekas KTU Dikes, memori pak D muncul dan selalu ingat bahwa memang diperlukan ekstra hati-hati dalam mengelola sebuah proyek. Pak D tidak berurusan langsung dengan masalah tersebut, karena pak D sedang Spamen waktu kejadian, bekas KTUpun akhirnya divonis bebas meskipun sudah menjalani penahanan selama hampir satu tahun.

Tiga PT

Tak tanggung tanggung memang. Tiga Perguruan Tinggi pak D undang penyelenggaraannya di KSB. Mulai hari ini tak usah kita tidur siang, ayo kita belajar dan meningkatkan SDM kabupaten yang kita cintai ini khususnya di jajaran kesehatan, demikian pak D katakan saat diskusi perencanaan dimulainya program khusus bagi karyawan dan karyawati di jajaran kesehatan.

Yang pertama adalah Fakultas Kesehatan Masyarakat kerjasama dengan UNTB, kedua Akademi Kebidanan kerjasama dengan Yayasan Adhiguna Kencana Bandung dan yang ke tiga adalah Akademi Perawatan kerjasama dengan Yayasan Yarsi Mataram.

Dengan ketelatenan dan keuletan baik dari penyelenggara, para dosen maupun para mahasiswa, tiga tahun berjalan hampir seluruh petugas kesehatan di KSB berstatus minimal D3 sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Jumlah sarjana kesehatan masyarakat cukup banyak, sehingga Pimpinan Puskesmas saat ini telah banyak dipegang oleh profesi tersebut.

Ada kenangan menarik, waktu pak D sebagai pengelala Akademi Kebidanan kerjasama Yayasan Adhiguna Kencana Bandung, yaitu ketika pak D ikut studi banding ke Malaisia, Singapor dan Thailan bergabung dengan beberapa Perguruan Tinggi di Jawa Barat. Pak D gak nyangka perjananan itu begitu panjang. Mataram Jakarta naik pesawat, nyambung lagi ke Batam, nyebrang ke Singapor, e.. gak tahunya naik bus ke Kuala Lumpur terus ke Thailand. Saking capeknya, pak D lupa apa isi studi bandingnya.

Kemiskinan

Olokan pak Dwi Kepala Dinas PU Provinsi NTB kepada pak D sangat terkesan. Dia mengatakan “sampean ini ngurus kemiskinan, tapi sampean sendiri bertambah miskin”.

Biarkan saja olokan sahabat itu sebagai selingan, yang jelas isu kemiskinan dan penanggulangannya adalah isu seksi dan menarik untuk diperdebatkan, dikaji dan dicari solusinya serta penerapan kebijakan yang diperlukan.

Itulah pekerjaan yang sangat memiliki daya magnitis untuk diri pak D yang sebenarnya sudah dimulai sejak lama bertugas sebagai PNS yang sebutan lainnya adalah abdi negara dan abdi masyarakat.

Tahun 80an di sektor kesehatan ada program nasional yang disebut Daerah Kerja Intensif Penyuluhan Kesehatan Masyarakat disingkat DKI-PKM. Konsep dasarnya adalah membangun kesehatan masyarakat meskipun bisa dimulai dengan entripoin kegiatan non kesehatan. Paket bantuan kepada kelompok masyarakat yang diketuai oleh kader, bisa dibelikan kambing, kelinci, ikan lele maupun kegiatan lain yang bersifat peningkatan ekonomi, baru kemudian perhatian kelompok diarahkan kepada kegiatan kesehatan masyarakat misalnya jambanisasi, air bersih pedesaan dll. Waktu itu banyak petugas kesehatan terutama yang bertugas sebagai penyuluh, belajar juga soal peternakan, pertanian, koperasi simpan pinjam dsb.

Dalam perjalanannya program DKI-PKM berubah menjadi Pembangunan Kesehatan Masyarakat Desa disingkat PKMD, dengan membentuk kader-kader yang sebagian besar laki-laki disebut PROKESA yang merupakan singkatan dari Promotor Kesehatan Desa.

Esensi kerja masih sama dengan DKI-PKM, tetapi ditambah dengan pelayanan kesehatan dasar berupa pengobatan ringan yang diperankan oleh Prokesa.

Membina Prokesa ke desa bersama petugas Puskesmas adalah pekerjaan keseharian waktu itu, pekerjaan seperti ini adalah pekerjaan penanggulangan kemiskinan.

Penanggulangan kemiskinan versi kesehatanpun, entah karena apa, dihentikan dan kemudian muncul era pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan melalui Posyandu dengan pasang surut aktifitasnya dan mulai bangkit kembali pada saat sekarang.

Jadi tidak asing lagi membina desa, sehingga pada Maret 2010 saat pak D dilantik sebagai Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa, maka penanggulangan kemiskinan menjadi visi bersama jajaran BPMPD dengan rumusan Pekan Destarata yang merupakan singkatan dari Penanggulangan Kemiskinan dan Desa Tuntas Gerakan 3A.

Menurut pak D tugas utama BPMPD adalah mengkoordinir penanggulangan kemiskinan, dengan menggunakan instrument bidang-bidang yang ada, mulai dari Sosbud dan Kelembagaan, Usaha Ekonomi Masyarakat, Teknologi Tepat Guna dan Pengelolaan SDA, serta Pemerintahan Desa, yang di dalamnya terdapat instrument teknis berupa Kelompok Kerja Operasional Posyandu, PNPM Generasi Sehat Cerdas, PNPM Mandiri Perdesaan.

Memang orang boleh ragu, setelah tahun 2010 sekretariat Penanggulangan Kemiskinan dipindah secara nasional dari BPMPD ke Bappeda, kemudian Ketua Tim Koordinasi Penanggulanan Kemiskinan Daerah berpindah dari Sekda ke Wakil Gubernur dan Wakil Bupati/Wakil Walikota, namun tanpa aktifitas BPMPD yang dalam lima tahun sebelumnya merupakan tempat administrasi pangkal penanggulangan kemiskinan, terasa kurang lengkap jadinya.

Dalam kondisi tidak enak badanpun, segera menjadi sehat bila ada panggilan lembur di Pendopo Wakil Gubernur yang biasanya sampai lewat tengah malam, itu sudah menjadi komitmen dalam upaya mendukung penanggulangan kemiskinan.

Semangat ini masih terus berjalan, bahkan setelah pak D pindah tugas sebagai Staf Ahli Gubernur Bidang Pemerintahan.

Emang enak..? apa sih hasilnya?

Penanggulangan kemiskinan di NTB tersosialisasi dengan sangat baik karena Tim yang biasa dipimpin langsung pak Wagub secara terus menerus menerbitkan buku, bahan presentasi dan materi terbitan media Koran. Berbagai prestasi tercatat dalam berbagai dokuman tulisan tersebut, misalnya keberhasilan NTB dalam membuat lompatan urutan penurunan angka kemiskinan dari urutan ke 24 pada tahun 2008 ke tahun 2009, urutan ke enam, urutan ke delapan dan terakhir naik  urutan ke empat pada tahun 2011 ke 2012. Evaluasi program penanggulangan kemiskinan yang mengikut sertakan Wakil Bupati dan Wakil Walikota selaku Ketua Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan beserta unsur TKPK diadakan rutin minimal enam bulan sekali, menjadikan komitmen kerjasama Provinsi – Kabupaten/Kota dalam penanggulangan kemiskinan semakin meningkat.

Singkatan

Kalau ngomong soal singkatan, pak D lah ahlinya, demikian kalimat yang pernah pak D dengar dari pak Sekda yang konon sempat bingung saat mendengar singkatan “Akino” dalam sebuah rapat pimpinan. Pak D suka dengan komentar itu, pak D bangga karena dalam tugas selama ini  telah bisa mencetuskan program dengan bentuk singkatan.

Singkatan yang cukup dikenal masyarakat adalah Akino (Angka Kematian Ibu melahirkan Nol), Absano (Angka Buta Aksara Nol) dan Adono (Angka Drop Out Nol) yang kemudian disingkat lagi menjadi Gerakan 3A. Singkatan ini masih digunakan di Provinsi NTB yang dihajatkan untuk peningkatan upaya kesehatan masyarakat, pendidikan masyarakat dan pemberdayaan.

Waktu bertugas di KSB ada juga singkatan yang dikenal oleh masyarakat, antara lain Jumantara yang bila dipanjangkan menjadi Juru Pemantau Kesehatan Masyarakat. Jumantara ini dibentuk untuk mendukung Pembangunan Berbasis RT, sebuah gagasan pemberdayaan masyarakat dari pak kiyai Zul bupatinya. Dengan Jumantara deteksi dini masalah kesehatan masyarakat seperti wabah, penemuan gizi buruk, ibu hamil yang harus periksa ke Puskesmas dll dapat dikendalikan dengan baik.

Gerbang Masa Depan yang merupakan singkatan dari Gerakan Pembangunan Masyarakat Desa Pantai juga pernah dipakai sewaktu bertugas di Lombok Timur, bahkan waktu ibukota kabupaten di Selong meresmikan motto Beriman singkatan dari Bersih, rapi, indah dan aman pak Dlah yang menulis dan melalui dr. Maryanto diserahkan kepada bupati.

Pengalaman terakhir penggunaan singkatan, terjadi saat bertugas di BPMPD. Dua singkatan yang digunakan dan dikenal adalah Pekan Destarata dan Bara Bangsaku.

Penanggulangan kemiskinan dan desa tuntas gerakan 3A disingkat Pekan Destarata, digunakan untuk mendorong pemerintah desa dan kelurahan dalam kegiatan penanggulangan kemiskinan, pelayanan kesehatan dasar dan penuntasan buta aksara melalui suatu penilaian atau lomba.

Sayang, lomba yang pernah diumumkan berhadiah umroh bagi pemenangnya ini, kurang mendapat sambutan serius sehingga disimpulkan tidak satupun desa atau kelurahan yang ditetapkan sebagai pemenang.

Sedangkan Bara Bangsaku sebagai singkatan dari Berbasis Silaturahim Membangun Desa dan Kelurahan, terakhir digunakan sebagai nama tabloid yang diterbitkan di BPMPD tiga bulan sekali sejak awal 2011. Tabloid ini didistribusi sampai keseluruh desa dan kelurahan yang jumlahnya lebih 1000, dan 116 kecamatan. Tabloid ini lebih banyak memuat berita “best practices” berbagai kegiatan pembangunan di masyarakat desa dengan maksud berbagai inovasi mendukung pembangunan akan lahir dimana-mana.

Bagaimana sekarang? Gak buat lagi singkatan? Rupanya peredaran singkatan sudah “over dosis”, sehingga usulan pak D tentang Layanan Utama Terpadu Berbasis Rumahtangga yang dapat disingkat Laut Biru tidak disetujui oleh pak Gubernur, terbukti dengan usulan yang keluar tanpa disposisi.

Akhir-akhir ini pesanan singkatan datang dari seorang teman yang akan membuat buletin pemberdayaan dan untuk sebuah gerakan sanitasi. Pak D telah memberikan, pertama Mentari singkatan dari Menuju Tangan Tangan Mandiri untuk nama buletinnya, sementara Sambang Santri singkatan dari Semangat Membangun Sanitasi Mandiri untuk nama sebuah gerakan sanitasi.

Staf Ahli

Sebagai Staf Ahli Gubernur, harus mampu menyampaikan pendapat meskipun tidak banyak pendapatan, demikian imej umum tentang staf ahli. Pak Dpun menimpali setelah di Staf Ahli pak D menjadi semakin “mantab” yang merupakan kepanjangan dari “makin tabah”.

Dua periode pak D sebagai staf ahli yaitu periode pertama tahun 2009-2010, dan periode kedua pada tahun 2012 ini. Menikmati tugas sebagai staf ahli yang volume pekerjaannya  relatif longgar, memang merupakan seni tersendiri, yang sering terasa mengasyikkan.

Pemikiran dan kegiatan seluas-luasnya dapat kita desain sendiri dengan mengambil “second opinion” dari yang kurang mendapat perhatian SKPD.

Periode pertama di tahun 2008, Gubernur NTB menyetujui gagasan yang pak D sodorkan tentang cita-cita Angka Kematian Ibu Nol disingkat AKINO dan Angka Buta Aksara Nol disingkat   ABSANO.

Peretemuan singkat dengan Tuan Guru Bajang waktu itu sangat mengagetkan, karena beliau langsung menyetujui tanpa melalui proses diskusi mengenai istilahnya. 15 Desember 2008 tepat pada peringatan Hari Ulang Tahun Provinsi NTB, program tersebut dicanangkan, dengan ditandai komitmen Pemerintah Pusat berupa bantuan 100 sepeda motor bagi bidan desa dalam mendukung cita-cita AKINO.

Dalam perjalanannya Akino dan Absano ditambah dengan satu akronim lagi yaitu ADONO yang merupakan kepanjangan dari Angka Drop Out Nol untuk pendidikan dasar. Kepala Bappeda yang menambahkan satu lagi akronim tersebut, belakangan lebih dikenal tiga akronim dengan huruf awal A tersebut dikenal dengan Gerakan 3A.

Perdebatan berkembang di kalangan pendidikan dan kesehatan pasca lahirnya Gerakan 3A. Sebagian menyatakan tidak setuju dengan konsep Gerakan 3A karena selama ini ukuran dampak suatu kinerja tidak pernah dinyatakan secara jelas pada periode yang singkat, tetapi yang sering digunakan indikator keluaran atau bisa indikator hasil seperti bertambahnya Bidan, bertambahnya pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan dalam rangka menurunkan Angka Kematian Ibu melahirkan.

Di sektor pendidikan demikian juga, membebaskan buta aksara merupakan kinerja yang memerlukan proses panjang dari kegiatan pembelajaran warga buta aksara, sehingga buta aksara nol merupakan suatu  kinerja yang sulit dicapai.

Lalu kenapa staf ahli punya gagasan Gerakan 3A?

Beberapa alasan melatar belakangi adanya gagasan Gerakan 3A, pertama ketiga kinerja yang dicita-citakan adalah indikator yang langsung berkaitan dengan rendahnya IPM Provinsi NTB yang masih berada di urutan ke 32 dari 33 provinsi di Indonesia. Menurunkan angka kematian ibu melahirkan sampai pada titik nol merupakan indikator sentral yang berpengaruh pada penurunan angka kematian bayi yang pada gilirannya berengaruh pada Angka Harapan Hidup sebagai satu indeks komposit IPM. Harapan yang terkandung dalam penetapan penurunan angka kematian ibu melahirkan juga terkait dengan kejelasan tanggung jawab sektor kesehatan karena faktor penentu kematian ibu sebagian besar berkorelasi dengan pelayanan kesehatan misalnya immunisasi, pemeriksaan kehamilan, gizi ibu hamil, pertolongan bidan, kesiapan ambulance, kesiapan rumah sakit dll. Berbeda dengan kematian bayi yang selain terkait dengan peran pelayanan kesehatan, faktor lingkungan juga berperan besar. Pada kenyataannya kematian ibu melahirkan juga bisa dikendalikan, terbukti bahwa Kota Mataram dan KSB pernah melaporkan satu tahun tanpa kematian ibu melahirkan, yaitu KSB th 2007 dan Mataram th 2008. Walaupun pada akhir periode ini malah tidak ada lagi kabupaten/kota melaporkan hal yang sama.

Kalau kematian ibu melahirkan berkorelasi dengan indeks komposit IPM yaitu Angka Harapan Hidup, maka angka buta aksara nol berkerelasi langsung dengan Angka Melek Huruf yang juga penentu dalam IPM. Sementara drop out nol pendidikan dasar berkorelasi langsung dengan rata-rata lama sekolah yang juga indeks komposit IPM.

Satu lagi indeks komposit penentu IPM adalah kekuatan daya beli masyarakat, yang provinsi kita sudah sangat bagus posisinya yaitu berada pada urutan ke tujuh dari 33 provinsi. Dengan demikian Gerakan 3A tidak mencantumkan peningkatan ekonomi sebagai salah satu fokus.

Alasan ke dua dipilihnya gerakan 3A adalah selaras dengan tren perhatian dunia menyangkut perjuangan jender dan juga MDGs.

Sedangkan alasan ke tiga adalah mudahnya penerimaan pesan untuk masyarakat  yaitu kita semua bertugas untuk memperjuangkan 3 hal yang sangat luhur yaitu jangan ada yang tidak peduli orang hamil agar ibu selamat pada waktu melahirkan, jangan biarkan orang tua tidak bisa membaca di era informasi ini dan yang ketiga jangan biarkan anak-anak tidak sekolah.

Itu cerita periode pertama sebagai Staf Ahli Gubernur periode 2008-2010.

Periode ke dua, dimulai pada Maret 2012.

Karena berada pada bidang Pemerintahan, berbeda dengan periode pertama yaitu bidang Pendidikan dan Kesehatan, maka lingkup tugaspun berbeda. Bidang Pemerintahan lebih kepada memberikan masukan kepada Gubenur tentang hubungan Pemprov dengan Instansi Vertikal, hubungan Pemprov dengan Pemkab dan Pemkot, kerjasama Pemprov dengan pihak-pihak lain, serta pemerintahan umum yang menyangkut tata kelola dan etika pemerintahan, efektifitas, ketertiban dan kedisiplinan.

Tahun pertama pak D menetapkan prioritas pada kerjasama Pemprov dengan NGO khususnya ACCESS, kerjasama Pemprov dengan Pemkab/Pemkot khususnya dalam penanggulangan kemiskinan, serta peningkatan efektifitas Unit Pengelola Teknis Dinas dan Badan di Provinsi NTB.

Mudah-mudahan tugas ini memberikan kontribusi pada pencapaian indikator yang telah ditetapkan dalam RPJMD.

Mencermati riwayat pekerjaan, ternyata pak D punya ragam pekerjaan yang cukup, karena telah pernah memegang 13 jabatan di pemerintahan. Katakan saja 5 pekerjaan saya terakhir, Staf Ahli Gubernur bidang pemerintahan saat ini, Kepala Baban Pemberdayaan Masyarakat sebelumnya, Staf Ahli Gubernur bidang Pendidikan dan Kesehatan, Asisten I di KSB dan Kepala Dinas Kesehatan KSB.

 
Leave a comment

Posted by on 3 November, 2012 in Cerpen

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: