RSS

Bedah Kemiskinan

 

Booklet Bedah Kemiskinan

 
Leave a comment

Posted by on 16 March, 2013 in Dokumen, Program Kemiskinan

 

10_Bk Kemiskinan A

//

 
Leave a comment

Posted by on 19 January, 2013 in Uncategorized

 

PERCEPATAN PENANGGULANGAN KEMISKINAN DI NTB

Slide1 Slide2 Slide3 Slide4 Slide5 Slide6 Slide7 Slide8 Slide9 Slide10 Slide11 Slide12 Slide13 Slide14 Slide15 Slide16 Slide17 Slide18 Slide19 Slide20 Slide21 Slide22 Slide23 Slide24 Slide25 Slide26 Slide27 Slide28 Slide29 Slide30 Slide31 Slide32 Slide33 Slide34 Slide35 Slide36percepatan-penanggulangan-kemiskinan-di-ntb.pptx

//

 
Leave a comment

Posted by on 19 January, 2013 in Uncategorized

 
Gallery

my family

fam1fam2

//

 
Leave a comment

Posted by on 18 January, 2013 in Uncategorized

 

tantri masih tetap sekolah

TANTRI AKAN TETAP SEKOLAH

Dimana keadilan itu? Dimana keberpihakan kepada orang miskin itu? Itulah kalimat yang sering memecah kesunyian disela nyanyian kodok di gubuk reot keluargaku.

Aku, anak tertua dari empat bersaudara, terpaksa harus menelan pil pahit berkepanjangan setelah bapak dan emakku menjelaskan bahwa aku tak bisa sekolah lagi ke smp, terutama harus membayar uang seragam, uang pembangunan dan uang bangku yang besarnya Rp.450.000,-.

Dimana keadilan itu? Kembali mulutku tak terkendali bersuara keras tanpa kusadari ya ampun…… andaikan Tuhan tidak menciptakan orang miskin di dunia ini, dan aku terlahir dengan bekal hidup orang tua yang cukup, pastilah aku tidak mengalami hidup serba kekurangan seperti ini. Atap bocor gubuk bapak dan emakku semalam, menambah kegalauan bathin yang kualami, rasanya masih lebih baik jadi pengemis yang berumah kolong jembatan di kota sana dari pada keadaan ku malam ini. Setengah mimpi….ku bertemu Panitia Penerimaan Siswa Baru yang congkak itu, yang dengan berdiri mendekati tempat duduk ku “orang tuamu punya uang gak? Untuk menyekolahkan kamu di SMP ini?” tiba-tiba aku tersentak bangun karena tetesan air semakin besar dan semakin sering, jatuh tepat di tubuhku.

“Tantri….. ayo cepat pindah tikar dan bantalmu, kita tunggu hujan di luar reda, baru kita bisa tidur lagi”, terdengar suara kasar bapakku sambil membangunkan ke tiga adikku yang tengah lelap bersama mimpinya. Emakku, tanpa bicara sibuk melipat kasur tipis tua pemberian pak Marto tahun lalu, yang sekarang sudah hidup di Jakarta bersama keluarganya. Kasur tipis yang sobek di kedua ujungnya pemberian pak Marto adalah harta berharga untuk keluargaku. Kasur itu setelah setahun melindungi ke tiga adikku dari kedinginan lantai tanah gubuk ini. Keseharian menahan lapar sedikit tertolong dengan hangatnya kasur ini. “Pasti pak Marto akan masuk Surga nanti, karena telah memberikan kasur tipis ini” demikian doa ku, sambil memandangi emak yang sedang berbenah menyelamatkan harta berharga keluargaku itu.

“Lho kok bengong Tantri…. Cepetan ikut angkat bantal-bantal itu, taruh di pojok sana biar gak kena air hujan” emak berbicara sambil menatap wajahku dalam terpaan sinar lampu lima watt pemberian tetangga sebelah.

Dua setengah jam lebih, kami tidur dalam posisi duduk melipat kaki masing-masing, di pojok rumah dekat tumpukan bantal, yaitu ditempat yang paling aman dari gangguan kebocoran di tengah lebatnya hujan malam ini. Kami harus bangun, ternyata adzan subuh sudah lewat tak terdengar ditelan gemuruh derasnya hujan. Saat hujan mulai reda dan matahari menampakkan cahaya bening di tengah pedusunan keluarga, bapak dan emak mulai berbenah bersiap-siap ketempat kerja rutin hariannya, bapak akan berangkat menyabit rumput untuk menghidupi  dua ekor sapi titipan kelompok program BSS (Bumi Sejuta Sapi), sedangkan emak siap mencari sayur paku di tebing kali untuk di jual. Adik-adikku bergegas mau sekolah di SD sebelah rumah, sementara aku mencoba menghibur diri membantu adik-adik mencarikan seragam sekolahnya, meskipun dalam hati aku belum bisa menghilangkan umpatan “dimana keadilan itu?” haruskan aku terpaksa Drop Out (DO) tidak melanjutkan sekolahku di SMP hanya gara-gara orang tua ku tidak punya uang untuk membiayai, haruskah aku di kawinkan pada usia dini karena tidak sekolah. Berbagai pertanyaan muncul satu demi satu mengiringi kepergian keluargaku keluar rumah.

Beberapa hari berada di rumah, karena tak sekolah lagi, berhasil aku lalui dengan membunuh waktu luang bersama sobekan kertas Koran bekas yang diberikan oleh Ibu Ari waktu bersih bersih rumah minggu lalu. Setiap lembar sobekan kertas Koran itu, aku baca satu persatu, bukan ingin tahu isi beritanya, tapi hanya untuk mengisi waktu sambil menunggu adik adikku pulang dari sekolah.

Saat adikku pulang dari sekolah, ya… suasana berubah dengan ocehan adikku bercerita soal teman teman sekolah yang nakal, yang jahil, tetapi yang juga cerdas di kelas.

Aku jadi ingat acara perpisahan di sekolahku beberapa minggu lalu. Ibu Yayuk ibu guruku yang dari Jawa itu memanggil aku untuk membantu menyiapkan minuman es buah sebanyak teman temanku dan guru guru yang ikut acara wisata perpisahan sekolahku. Jumlahnya semua 52 orang, berarti aku harus mengisi gelas gelas kosong ini sejumlah 52 gelas dengan es buah yang ada dalam tiga termos yang tadi dibawa di mobil ibu guru.

Ibu guru yang satu ini memang beda dengan guru guru yang lain, sekali waktu dia kelihatan paling angker, di lain waktu ibu guru ini adalah guru yang baik sekali.

Anang temanku yang paling nakal di sekolah sangat memusuhi ibu guru, menggoda goda dengan sikap yang menarik perhatian, tidak memasukan pakaiannya dengan rapi, rambutnya yang dibiarkan memanjang dan di semir warna warni, bermain main waktu belajar di kelas dan sebagainya. Tetapi ibu guru tidak bosan bosannya selalu mendatangi dan mengingatkan Anang, agar menjadi anak yang taat dan patuh pada tata tertib sekolah.

Pada saatnya ibu guru sangat streng, tapi beliau sangat baik. “Aku ingin menjadi beliau, kalau aku bisa jadi guru”

“Sudah lama rasanya, saya tidak bertemu bu guru, mudahan saya bisa bertemu beliau lagi suatu saat nanti, Tantri pengin curhat habis bu, masak saya harus drop out sekolah gara gara gak punya biaya”. Ufh….. dimana keadilan itu?

Dalam kelelahan sambil tiduran di atas tikar berogak pos ronda sebelah gubuk orang tuaku siang bolong itu, saya tertidur membawa mimpi seiring dengan isi lamunanku tentang ibu guru. “Tantri bertemu ibu guru dalam mimpi”

Bu guru dengan senyum ramahnya mendengarkan cerita tentang nilaiku yang bagus di kelulusan SD tahun ini. Sayang, aku tidak lagi bisa meneruskan ke SMP di seberang jalan kantor pak camat itu. Padahal suatu hari aku lewat sekolah SMP 21 itu, aku menghentikan sepedaku dan aku berdoa, agar suatu saat kelak selepas SD aku harus dapat sekolah di sini.

Sekolah SMP yang baru lima tahun berdiri ini, sudah menujukkan penampilannya yang membanggakan. Halaman yang luas itu terlihat anggun dan bersemangat dengan tumbuhan pohon mangga tegak subur berdiri berderet di depan kelas.

Rerumputan hijau yang terhampar diselingi dengan bunga bunga di sudut halaman, sangat indah terlihat. Kedamaian dan ketenangan ada di sana, ditemani semilir angin persawahan sekitarnya. Aku merasa kehidupanku berada di sana. Prestasi SMP 21 yang sempat kudengar dari cerita tetanggaku yang menjadi siswa di sana sungguh sangat menarik hatiku karena  sekolah itu telah banyak penghargaan yang diperoleh dari kegiatan pembinaan dalam lomba baik tingkat kecamatan maupun kabupaten pada bidang keagamaan antara lain MTQ, cerdas cermat, pidato dan kaligrafi. Pada tahun yang lalu lomba kaligrafinya justru sampai mewakili NTB ke tingkat Nasional.

Semangat para siswapun terlihat nyata disamping kelas, di lapangan basket yang baru saja terbangun. Mereka bermain, bercanda dan tertawa lepas sambil memperebutkan bola warna merah yang akan digiring masuk keranjang permainan basket itu. Aku ingin menjerit, “Ini sekolahku!”

Ibu guru kemudian bertutur dengan lembut, bahwa bersabar dan berdoa adalah teman keseharian yang perlu aku lakukan. Upaya juga harus tetap aku lakukan, agar cita cita masuk SMP 21 dapat menjadi sebuah kenyataan. Ibu guru penyampaikan pesan itu sambil menepuk bahu kananku. Belum sempat aku berucap terimakasih kepada bu guru, aku harus terbangun dari mimpi indah siang itu. Tepukan diatas bahuku tadi, ternyata tepukan adikku yang membangunkanku dari tidur. Astagfirullah…..

Kak Tantri…. di rumah ada tamu, dua orang ibu-ibu, yang satu ibu guru kakak katanya. Aku segera bergegas membenahi rambutku sekenanya, siapa ya… pikirku.

Ibu…… ibu guru…. teriakku. Aku tak sanggup lagi menahan teriakanku dan tangisku sejadi-jadinya. “Ya Allah … Engkau telah mengirim ibu guruku, ibu guru terbaikku, hanya sekejap usai aku memimpikannya”

“Udah Tantri tenang… usap air matamu, ibu tadi mampir ke sini setelah bertanya kepada ibu Yanti ini. Ibu Yanti ini adalah Ketua PKBM di desamu ini”. Ayo salim dulu sama bu Yanti, ucapkan terima kasih, beliau sudah mengantar ibu ke rumahmu ini.

Kesenggukanku reda, ibu guru meneruskan cerita bahwa beliau hari ini sedang bertugas sebagai salah satu Tim Monitoring dan Evaluasi kegiatan pembelajaran warga Buta Aksara di kampungku, dengan surat tugas dari Kepala Dikpora Kabupaten. Saya sedikit paham apa yang diceritakan ibu guru, beliau memang seorang aktifis kegiatan sosial seperti ini disamping beliau adalah seorang guru SD. Beliau baru saja berkunjung ke kelompok pembelajaran warga Buta Aksara Melati yang diselenggarakan di rumah ibu Yanti yang mengantar beliau. Ibu Yanti kebetulan mengenal emak karena beliau adalah salah satu langganan pembeli sayuran paku yang saban hari dijajakan oleh emakku di sekitar kampung ini.

Saya sempat merenung di tengah obrolan bersama bu guru, betapa mulia hati ibu ibu yang sekarang berada di depan mataku ini. Tugas mencerdaskan kehidupan bangsa, meskipun pasti ada imbalannya, tetapi beliau lakukan dengan penuh tanggung jawab. Kali ini bukan generasi muda saja yang beliau perhatikan tetapi warga Negara yang rata rata sudah berumur 40 tahun ke atas, dibimbing untuk bisa membaca dan menulis demi memperoleh kemuliaan di sisa hidupnya. Warga tidak lagi tersesat informasi karena sudah bisa membaca, warga tak lagi akan tertipu bila harus menyetujui sebuah perjanjian, dan generasi tua akan mendorong generasi muda untuk tidak drop out dengan memberi contoh bahwa generasi tuapun masih semangat untuk belajar. Sungguh luar biasa program pemerintahan Tuan Guru di NTB ini.

Tetapi, bagaimana dengan nasib Tantri sendiri? Tidakkah ada program terobosan pemerintah untuk memberantas drop out dari SD ke SMP seperti juga pembelajaran Buta Aksara, yang sedang ditekuni ibu guru, pertanyaan itu terus bergelora dalam hati, sambil menunggu jeda obrolan bersama bu guru.

Alhamdulillah…… ibu guru menjawab pertanyaanku dengan sangat jelas. Beliau mengatakan bahwa di provinsi ini tidak boleh lagi ada SMP dan SMA yang memungut biaya apapun untuk siswa barunya. Ibu guru akan mengantarkan Tantri hari Senin ke kantor Dikpora dan langsung ke Kepala Sekolah SMP 21. Ibu gurun menjamin, Tantri akan tetap sekolah dengan gratis.

Ya Alloh…. Ya Rabb…. Engkau telah mengirim malaikat ke gubuk reot orang tuaku ini. Protes dan tangisan hatiku berminggu minggu ini, kini telah padam, “Tantri akan tetap sekolah, amin.”

 
Leave a comment

Posted by on 4 November, 2012 in Cerpen

 

Galeri Foto

 
1 Comment

Posted by on 3 November, 2012 in Foto

 

Hasil Rumusan Rakor Staf Ahli

Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on 3 November, 2012 in Dokumen